JILBAB ? Apa pentingnya ????

Allah swt menciptakan manusia, alam, serta isinya dengan sangat sempurna. Allah telah memikirkan bagaimana dan apa saja yang ciptaanNya butuhkan dan inginkan. Khususnya untuk manusia, Allah menciptakan manusia secara sempurna tetapi bukan lantas langsung meninggalkannya, melainkan Allah juga memberikan petunjuk yang bisa membawa manusia agar selamat di dunia dan mendapatkan tempat spesial di sisinNya. Allah juga menurunkan Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan yang sempurna untuk kita contoh. Ibaratnya, kita sedang mengikuti ujian namun ternyata ujian ini adalah Open Book, semuanya ada di dalam buku dan jika kita menjawab apa yang ada di dalam buku tersebut sudah barang tentu kita akan lulus. Subhanallah begitu baik dan sayangnya Allah swt pada manusia yang hanya bisanya suka mengeluh.

                Allah swt juga telah memikirkan apa yang terbaik untuk makhluk yang katanya Mulan Jameela adalah Makhluk Tuhan yang paling seksi, yaitu wanita. Allah menciptakan manusia yang indah dan akan menarik perhatian lawan jenisnya,  yaitu lelaki, maka untuk membuat martabat wanita tinggi di depan para lelaki, Allah telah membuatkan busana dan aturan – aturan khusus untuk para wanita agar wanita tidak dilecehkan oleh tingkah nakal para lelaki.

Aurat Wanita

Syariat Islam telah mewajibkan laki – laki dan perempuan untuk menutup aurat, agar masing – masing bisa menjaga pandangannya. “Menjaga pandangan“ (ghadl al – bashar) adalah tidak melihat hal – hal yang diharamkan atas dirinya. Dengan kata lain, perintah untuk menjaga pandangan tidak ada bedanya dengan perintah untuk tidak melihat aurat laki – laki dan perempuan.

Aurat menurut pengertian bahasa (literal) adalah kekurangan dan sesuatu yang mendatangkan celaan ; yakni aurat manusia dan semua yang bisa menyebabkan rasa malu. Disebut aurat karena tercela bila terlihat (ditampakkan).

Kewajiban menutup aurat sudah dijelaskan di dalam Al Qur’an, Allah swt berfirman :

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan.”(QS Al A’raaf : 26)

Imam Qurthubiy di dalam Tafsir Qurthubiy menyatakan : ayat ini merupakan dalil wajibnya menutup aurat. Sebab Allah telah menurunkan kepada kita pakaian yang digunakan untuk menutup aurat.

Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwasanya ia berkata ;

“Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar datang menemui Rasulullah saw, sedangkan ia mengenakan pakaian tipis. Nabi saw pun segera berpaling darinya, seraya bersabda, “ Wahai Asma’, jika seorang wanita telah akil baligh, tidak boleh tampak dari dirinya, kecuali ini dan ini. Beliau mengisyaratkan wajah dan telapak tangan.” (HR. Abu Dawud)

Dari hadist di atas jelaslah bahwa seluruh bagian tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Perintah menutup aurat ini diperjelas lagi dengan hadits ancaman untuk orang yang memperlihatkankan auratnya selain pada mahromnya.

 

Ancaman Bagi Orang yang Membuka Auratnya

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda :

“ Ada dua golongan manusia  yang menjadi  penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak – lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian – sekian.” (HR Imam Muslim)

Hadits di atas memperlihatkan betapa berat ancaman untuk orang – orang yang tidak mau patuh pada perintah Allah dan RasulNya, ancamannyapun tidak main – main, langsung diberikan label “tidak akan masuk surga“ dan bahkan “tidak dapat mencium baunya padahal bau surga dapat tercium dari jarak sekian”, Astaghfirullahal’adzim. Hadits di atas merupakan ancaman yang sangat keras untuk para wanita yang menampakkan sebagian maupun keseluruhan auratnya, berbusana tipis dan berlenggak – lenggok – -melakukan gerakan – gerakan erotis dan merangsang (porno aksi).

Belakangan, fenomena seperti ini banyak sekali diperlihatkan di sekitar kita, contohnya di fakultas ekonomi, banyak para mahasiswinya yang sudah menutup aurat tetapi masih terlihat lekukan tubuh dan warna kulit asli mereka. Memang benar mereka sudah dikatakan menutup aurat, tapi apakah menutup aurat yang semacam ini yang Allah dan Rasulullah perintahkan? Ternyata tidak, Allah telah memberikan busana yang lebih pantas dan bisa menjaga martabat wanita, yaitu “jilbab” dan “khimar.“

 

 

 

Perintah Mengenakan Jilbab

Selain memerintahkan wanita untuk menutup auratnya, syariat Islam juga mewajibkan wanita untuk mengenakan busana khusus ketika hendak keluar rumah dan berada di ruang publik (umum). Allah swt berfirman :

ياأْيّهاالنّبي ّقل لأزْواجك وبناتك ونساءالمؤْمنين يدْنين من جلابيبهن ّذلك أدنىأن يعْرفْن فلا يؤْذيْن وكان الله غفورا رحيما 

Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang” (QS Al Ahzab : 59)

Tahukah, ayat di atas di turunkan oleh Allah  spesial untuk para wanita. Sebegitu perhatian dan sayangnya Allah pada wanita hingga Allah membuatkan busana khusus yang dengannya mereka tidak akan diganggu dan dilecehkan oleh kaum pria. Subhanallah. Adakah Tuhan yang begitu perhatian dan memikirkan hambaNya kecuali Allah?

Allah telah membuatkan busana khusus untuk wanita Islam yang mana busana itu digunakan ketika berada di depan khalayak umum seperti pasar, kampus, rumah sakit, dll,  yaitu “ Jilbab “ dan “Khimar “tapi apakah Jilbab yang dimaksud adalah seperti yang kebanyakan orang gemborkan?

Dalam ayat di atas terdapat kata jalabib yang merupakan bentuk jamak dari kata jilbab. Memang para mufassir berbeda pendapat mengenai arti jilbab ini. Imam Syaukani dalam Fathul Qadir (6/79), misalnya, menjelaskan beberapa penafsiran tentang jilbab. Imam Syaukani sendiri berpendapat jilbab adalah baju yang lebih besar daripada kerudung, dengan mengutip pendapat Al-Jauhari pengarang kamus Ash-Shihaah, bahwa jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah). Ada juga yang berpendapat jilbab adalah semacam cadar (al-qinaa’), atau baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan (ats-tsaub alladzi yasturu jami’a badan al-mar`ah). Menurut Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (14/243), dari berbagai pendapat tersebut, yang sahih adalah pendapat terakhir, yakni jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan dan dalam kamus Arab-Indonesia yang disusun oleh Al-Munawwir mengartikan jilbab sebagai baju kurung yang panjang sejenis jubah. Jadi, jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah) atau baju kurung (mula`ah) yang dipakai menutupi seluruh tubuh di atas baju rumahan. Jilbab wajib diulurkan sampai bawah (bukan baju potongan), sebab hanya dengan cara inilah dapat diamalkan firman Allah (artinya) “mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Dengan baju potongan, berarti jilbab hanya menutupi sebagian tubuh, bukan seluruh tubuh. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’i fil Islam, hal. 45-46).

Jilbab adalah busana terluar yang menutupi seluruh tubuh di atas baju rumahan (mihna). Maksudnya baju rumahan di sini adalah baju yang biasa dipakai sehari – hari di dalam rumah, ketika berinteraksi dengan orang – orang yang berada di dalam rumah. Jadi, pemakaian jilbab tidak boleh digunakan langsung tanpa menggunakan mihna karena mihna juga adalah termasuk baju wanita mukminat.

Adapun syarat – syarat jilbab yang syar’i ketika digunakan di luar rumah atau bertemu dengan orang yang bukan mahromnya adalah :

  1. 1.        Menutupi seluruh tubuh selain yang dikecualikan.
  2. 2.       Tidak terputus
  3. 3.       Tidak ketat sehingga menggambarkan bentuk tubuh
  4. 4.       Kainnya harus tebal, dan tidak tembus pandang sehingga tidak nampak kulit tubuh.
  5. 5.       Tidak menyerupai pakaian laki-laki
  6. 6.       Tidak mencolok dan berwarna yang dapat menarik perhatian
  7. 7.       Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
  8. 8.       Bukan pakaian untuk mencari popularitas
  9. Tidak diberi parfum atau wangi-wangian

Perintah Mengenakan Khimar

                Busana yang telah ditetapkan oleh syariat Islam bagi wanita yang hendak keluar rumah dan berada di depan ruang publik (umum) selain Jilbab adalah Khimar. Dalil yang menunjukkan perintah ini adalah firman Allah swt ;

                “ Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya “ (QS An Nuur : 31)

                Ayat ini berisikan perintah dari Allah swt agar wanita mengenakan khimar (kerudung), yang bisa menutup, kepala, leher dan dadanya.

                Dari penjelasan di atas sudah jelaslah bahwa busana yang diperintahkan Allah swt untuk digunakan oleh wanita ketika hendak keluar rumah dan berada di khalayak umum adalah Jilbab (busana yang longgar seperti jubah) dan Khimar (kerudung). Dengan menggunakan Jilbab dan Khimar menandakan bentuk ketaatan kita kepada Allah.

Al Qur’an dan Al Hadits di turunkan dalam bahasa Arab, tapi semua perintah yang ada di dalam Al Qur’an dan Al Hadits ditujukan bukan hanya untuk orang – orang Islam yang berada di Arab saja melainkan untuk umat Islam yang berada di seluruh pelosok dunia. Jadi, tidak ada bedanya pakaian orang Arab dengan pakaian orang Indonesia, karena sama – sama perintahnya berasal dari satu sumber, yaitu Al  Qur’an. Yang ada adalah beda antara busana wanita Mukminat dan wanita Kafir. Wallahualam.

Rasulullah saw bersabda :

“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”. (HR. Muslim)

 

Menutup aurat adalah sebagian daripada ketundukan dan ketaatan pada Allah

Tutuplah auratmu sebelum auratmu ditutupkan! Gambar

Gara – Gara Gigi Plasu (Naskah Drama)

by Wiwit Widia

Drama yangku buat dan sekaligus aku peranin kali ini bener – bener bikin pamorku turun, dikarenakan kata temen – temen aku pantes jadi nenek – nenek -,-‘

………….

Di suatu desa yang terpencil, terbelakang, kotor, dan jauh dari bau sepeda apalagi motor, tersebutlah gadis cantik jelita dan baik hati tapi rada-rada kurang pintar yang hidup dengan neneknya, Tiyem namanya. Pada suatu hari di sawah terlihat Tiyem dan neneknya sedang menandur padi di sawah milik juragan Kasni, hingga ada suatu kejadian….

Husna      :”Hei…. Pengumuman, pengumuman. Ayo pada kumpul ke sini semuanya, ada berita hot di        sini, ekskplusip.”

Tiyem       :”Nek, ada apa ya Yu Husna teriak-teriak di sana”

Nenek     :”Nenek juga gag tau Yem, mungkin mau bagi-bagi warisan cabe”.

Tiyem       :”Oh…iya ya Nek, Yu Husna kan juragan cabe. Wah…. Kebeneran banget ya Nek, persediaan cabe di rumah kita sudah habis. Yu Husna memang pengertian sekali”.

Nenek     :”Iya Yem, ayo kita ke sana sebelum cabenya habis”.

Tiyem       :”Iya Nek, ayo”.(menggandeng nenek)

                   Kemudian Nenek dan Tiyem segera menghampiri Yu Husna dan langsung berteriak sambil membawa cepon yang mereka temukan di pinggir jalan.

Tiyem       :”Yu Husna, Tiyem sama Nenek minta cabenya ya dua cepon, untuk persediaan 1 tahun”.

Husna      :”Eh Tiyem, siapa yang lagi bagiin cabe?”

Nenek     :”Lah…tadi Yu Husna teriak-teriak hot, hot, itu kan bahasa kali keruh nya cabe ya Yem”.

Lengki      :”Eh….Nenek, maksudnya teh bukan hot cabe atuh Nek, tapi kompor ya Yu Husna ya?”

Husna      :”Lagh….ora ana sing maksud iki, maksudnya ada berita heboh dan mengejutkan loh nyai-nyai”.

Tiyem       :”Berita apa Yu Husna?”

Husna      :”Ini, ada sayembara dari juragan emas Marpuah. Saya bacakan ya?”

                     Woro-woro

Diberitahukan kepada seluruh warga yang masih bernafas dan mempunyai ijin untuk menghirup udara di seluruh penjuru Negara Kal-Ker.

Bagi siapa saja yang menemukan gigi emas plasu milik juragan Marpuah akan dinikahkan dengan Tukijan  anak juragan Marpuah yang sangat tampan dan rupawan.

Sekian

Tiyem       :”Wah….Nek, barang sekecil itu mana mungkin bisa ditemukan?”

Nenek     :”Tapi cu, common babi”.

Tiyem       :”Nek, ko babi sih?”

Nenek     :”Oh ya, nenek lupa, kamu kan singa”.

Tiyem       :”Ih… ko singa Nek, aku kan harimau, auuuuuuuuuuuuuuuugh”.(mengaum)

Lengki      :”Eh…sudah, sudah.

Wa’ah      :”Iya, ini nenek sama cucu senang sekali main nama-nama binatang, kaya anak kecil saja”.

                   Sementara itu di rumah juragan Marpuah, juragan emas terkaya di Negara Kal-Ker terlihat panik memikirkan gigi emasnya yang hilang. Gigi emas itu sangat berharga untuknya karena itu adalah kenang-kenangan sekaligus warisan dari almarhum suaminya, hanya gigi emas itu yang selalu menemani hari-harinya yang sepi tanpa kehadiran seorang suami.

Marpuah   :”Ya Allah… gigi plasuku, satu-satunya warisan dari suami tercintaku, bang Toyib.”(menangis)

Tukijan    :”Sabar Ma, nanti pasti akan ditemukan. Semoga yang menemukannya adalah bidadari yang turun dari andong rusak.”

Marpuah   :”Kamu ini aya-aya wae”.

Tiba-tiba Yu Husna datang sambil berteriak…

Husna      :”Raganju, raganju, raganju, tenang saja.(sambil berlari)

                       Saya sudah mengumumkan kepada seluruh penjuru Negara Kal-Ker tentang sayembara itu. Pasti gigi emas plasu raganju tidak lama lagi akan ditemukan.”

Marpuah   :”Owalaaaaah….Husna, kamu memang top markotop mirip lollipop tapi gag bisa di olop-olop. Aku tunggu kabar baik itu coy”.

Husna      :”Okeh bro!”

Marpuah   :”Gue suka gaya loe.”

 

                   Warga sibuk mencari gigi emas plasu milik juragan marpuah, ada yang mencari di jalan, di sungai, di tempat sampah bahkan di tempat tikus bersarang. Di saat warga tengah sibuk mencari-cari gigi emas plasu milik juragan Marpuah, Tiyem berdiam diri di kamarnya, dan dia sedang berdoa.

Tiyem       :”Ya Allah, pertemukanlah gigi plasu juragan Marpuah, agar ia bisa mengenang suaminya. Aaaaaaamiiiiiiin.”(sambil mengangkat tangan)

                   Tiba-tiba jatuh dari langit- langit ke telapak tangan Tiyem, benda kecil, kuning dan jelek. Setelah Tiyem perhatikan benda kecil itu dengan mata terpejam. Ternyata benda jelek itu adalah gigi plasu juragan Marpuah.

Tiyem       :”Terimakasih ya Allah, Allah baik deh sama Tiyem”.(sambil mengedipkan mata ke atas)

                   Tiyem langsung pergi menemui neneknya yang berada di teras rumah sedang mengelap tanah.

Tiyem       :”Nek, nenek…. Tiyem nemuin gigi plasu juragan Marpuah.”(menunjukkannya)

Nenek     :”Nemu dimana Yem?”

Tiyem       :”Dari langit dikasih sama Allah”.(menunjuk ke atas)

Nenek     :”Allah baik ya cu? Besok kita kembalikan ini ke juragan Marpuah”.

                      Keesokan harinya Tiyem dan nenek pergi ke rumah juragan Marpuah, bersamaan dengan itu, ternyata salah satu warga ada yang membawa gigi plasu tetapi palsu.

Wa’ah      :”Juragan, ini saya sudah menemukan gigi plasunya.”(menunjukannya)

Marpuah   :”Wahahay, you so wodelpul! Kamu akan mendapatkan warisan itu.”

Husna      :”Selamat raganju, akhirnya raganju mendapatkan gigi plasu itu”.(memeluk juragan)

Tiba-tiba…

Tiyem       :”Tunggu! What it is! Eh… ngko ndisit!”(berlarian)

Marpuah   :”Aya naon iki?”

Tiyem       :”Ini ndoro, gigi plasu yang asli.(menunjukan) Bukan itu yang plasu.

Wa’ah      :”Ini yang asli”.

Tiyem       :”Ini yang asli”.

                      Tiba-tiba datang seorang warga lagi membawa gigi yang sama.

Lengki      :”Ini yang asli juragan”.

Nenek     :”Stop! Jangan pada ribut! Kita tes dulu menggunakan pepsodent. Gigi yang asli tidak akan luntur warnanya”.

Marpuah   :”Ide bagus”.

Nenek     : (menggosok satu persatu gigi plasu)

Husna      :”Nah……… terbukti kan. Ini gigi plasu yang asli raganju”.(menunjukan gigi plasu yang ada di tangan Tiyem)

Marpuah   :”Iya ini gigi plasuku. Oh… bang Toyib”.(menciumi gigi plasu)

                      Setelah di tes ternyata gigi plasu yang asli adalah gigi plasu yang dibawa oleh Tiyem. Karena ketulusan hatinya. Akhirnya sesuai dengan  perjanjian awal Tiyem dinikahkan dengan Tukijan,laki-laki yang diidamkannya selama ini dan diam-diam Tukijanpun menyukainya. Saat mereka dipertemukan,

terjadilah…..

Tiyem       :”Mas Tukijan”.(mlongo)

Tukijan    :”Oh Tiyem, sungguh cantiknya dirimu. Maukah kau menjadi gembok dihatiku?”

Tiyem       :”Jangankan jadi gembok, jadi kutu dirambut maspun Tiyem mau mas”.

Akhirnya merekapun hidup bahagia sampai akhir hayat.

Selamanya.

TAMAT

Cintaku Mentok Neng Maroah (Naskah Drama)

by Wiwit Widia

Naskah drama ini aku buat untuk tugas Bahasa Jawa, jadi maklumlah bahasanya rada- rada ndeso.hehe.

……………

             Neng sebuah Negara arane Negara Kal-Ker sing rada terkenal, rada amba, rada apik, pokoke rada-rada segalane, urip wong lanang sing rada gagah, arane Parman, pegaweane ngelamuuuuuun bae saben dina, kosih mboke karo bapake kesuh, saking kesueh mboke tau pan njodoh na Parman karo kebone tanggane sing senenge ndelengna Parman.

 

Esuk-esuk neng ngarep umaeh Parman…

 

Mboke  :” Oalah… iki bocah hobine ngelamuuuuuun bae! Mengko dipatok curut mbeke nyaho kowe! Le, Le!”(nepuk bahu)

Parman :” Aduh mboke. Ngageti bae”(kaget)

Mboke  :” Waduh Le… Le, pan dadi apa kowe pegaweane saben dina nglamuuuun bae!”

Parman :” Mbokeku sing paling ayu dewek kari matane aku ditutup. Aku kiye lagi mikir, ora lagi nglamun mboke. Sejen owh”(ngeles)

Mboke  :” Idih… kowe kira mboke kiye ora bisa mbedakna antara nglamun karo lagi mikir. Mana jog sawah rewangi bapake macul”

Parman :” Wah… pie mboke. Masa Parman Bachcin gon macul neng sawah? Ngko penggemare Parman pada minggat mboke”

Mboke  :” Lah… penggemare semut karo coro be bangga. Uwis mana macul. Melas bapakmu dewekan neng sawah!”

Parman :” Inggih mboke”(pasrah mbari menyat sing jengkok)

Mboke  :” Eh kiye digawa”(nidokna pacul)

 

             Parman lunga mbari nggawa pacul maring sawah nyamperi bapake.

 

Neng sawah…

 

Parman :” Bapake, ayem teka!”(mlayu mereki bapake)

Bapake :” Alah… pan apa kowe jog mene Le?”

Parman :” Aku pan ngrewangi bapake owh pak”

Bapake :” Ora salah Le? Kowe pan ngrewangi bapak macul?”

Parman :” Ya ora owh pak, iki aku wis nggawa pacul nggo macul bapak. Eh… macul sawah pak”

Bapake :” Syukur Le, akhire kowe wis sadar gelem ngrewangi bapake neng sawah, daripada gaweane nglamuun bae ora nggenah”

Parman :” Bapake ngeledek bae. Ya wis ya pak, aku pan nglanjutna nglamune ndisit, mau diganggu mboke, padahal mau lagi pan numpak becak muteri sawah”(lunga)

Bapake :” Ye… kiye bocah, mbeke dialem malah kumat maning penyakite. Aduh Gusti…Gusti…”

 

             Parman lunga maring kali Kal-Ker sing perek sawah, neng kana Parman nerusna lamunane sing mau kepedot ding mboke. Enggal mulai nglamun, Parman weruh bocah wadon 2 sing lagi njimoti watu neng kali Kal-Ker nganggo digoreng, salah sijine Maroah, sing slama kiye terus-terusan mampir neng lamunane, anake juragan Jengkol sing termasuke sugih neng Negara Kal-Ker.

 

Parman :” Aduh biyung… biyung… ayu tenan iki pujaan atiku Maroah”

 

             Lagi asik-asike ndelengna Maroah mbari nerusna nglamun, Parman dikagetna ding Sumardi, batir seperjuangane Parman sing rada-rada pinter.

 

Sumardi      :” Par, Par!”(nabok punggung)

Parman :” Aduh… Gusti. Apa maning kiye, lagi enak-enake nglamun, diganggu maning. Tobat. Tobat!”

Sumardi  :” Par, lagi ndelengi Maroah ya? Melu ya?”

Parman :” Eh… enak bae melu-melu. Maroah kwe ndekene aku, sing olih weruh Maroah kwe kur aku!”

Sumardi  :” Lah, emange ko bapake Par? Maroah ndekene kowe?”

Parman :” Udu bapake, tapi enggal dadi bojone”

Sumardi  :” Wah… selamet ya. Undangane ja klalen ya Man”

Parman :” Tenang bae, ngko ko tag wei undangan khusus”

Sumardi  :” Khusus mangani panganan sing enak Man?”

Parman :” Udu, tapi khusus ngelap kringete aku”(gembuyu)

Sumardi      :” Oalah… tega ko Man maring aku”(jengkel)

 

             Gara-gara ngobrol karo Sumardi, Parman ora sadar Maroah wis langka neng tempat mau.

 

Parman :” Lah… gara-gara ko ngejak beradu, yayange aku ilang kan?” (kesuh lunga ninggalna Sumardi)

Sumardi  :” Ganeng malah aku sing disalahna? Par, maring ndi?”

Parman :” Golet kebo neng toko baru”

Sumardi  :” Melu Par”(ngejar)

 

          Esuk-esuk nang umaeh Maroah, katon Maroah lagi ngomong dewekan neng ruang tamu.

 

Maroah :” Ih… mas Parman, gagah nemen kaya Sule mbeke ketabrak”(cengar-cengir)

 

         Ujug-ujug mbo’ Rum, rewange keluargane Maroah teka mbari nyekeli palu.

 

Mbo’ Rum  :” Mbake Mar, mbake Mar. Weruh ayam mabur mene lih?”(nggoleti)

Maroah     :” Ayam apa mbo’?”(bingung)

Mbo’ Rum  :” Ayam sing wingi mbeke lairan neng Puskesmas mbake. Melas kae anake neng UGD lagi njaluk nusu”

Maroah     :” Ora mbo’. Kwe maksude apa mbo’ nggawani palu? Pan bangunan neng ndi mbo’?”

Mbo’ Rum  :” Oh… udu mbake, tapi palu kiye nggo notok ayam sing tega ninggalna anake dewekan neng UGD.

Maroah     :”……….”(bingung)

Mbo’ Rum  :” Ya wis ya mbake, mbo’ pan nggolet ibu sing ora tanggung jawab kuwe. Misi mbake”(nunduk, lunga ninggalna Maroah)

 

         Maroah nesih kebingungen maring mbo’ Rum sing rela muteri Negara Kal-Ker nganggo nggoleti ayam sing ora jelas keturunane. Ujug- ujug Tiyem, adine Maroah sing paling cerewet teka mbari ngeromed.

 

Tiyem       :” Aduh… piwe sih jane duwe mata loro, kuping loro, tangan loro, sikil loro, irung siji, cangkem loro!”(mbari ndeleng mburi)

Maroah     :” Wah… adiku pinter, wis bisa ngerti aran-aran awak. Pasti siki lagi seneng ya? Slamet ya?”(ngrangkul)

Tiyem       :” Ih… mba Mar… (nguculna Maroah) Aku kiye lagi kesuh kye, udu lagi seneng! Siki aku pengin duren!”(jengkel)

Maroah     :” Oh….”

Tiyem       :” Kweh ya, oh tok maning jawabane!”

Maroah     : (narik tangane Tiyem) “ Melu aku jog kebon”

 

         Maroah langsung narik tangane Tiyem tanpa ringokna romedane Tiyem sing lagi kesuh trus lunga jog kebon.

 

Neng kebon…

 

Tiyem       :” Wah… mba Mar eman men, aku pengin duren langsung dijujugna jog kebon. Gyan mba menek mana, aku wis ngelih kyeh”

Maroah     :” Eh… enak bae, sapa sing pan wei ko duren?”

Tiyem       :” Lah trus pan apa mba?”

 

Urung sempet Maroah pan njelasna maksude ngejak Tiyem jog kebon, ujug-ujug mbo’ Rum teka mbari gowokan.

 

Mbo’ Rum  :” Mbake Mar, mbake mar”(mlayu)

Maroah     :” Ana apa mbo’? Ayame wis ketemu?”

Mbo’ Rum  :” Wis, mba. Mau ketemu neng MM lagi tuku Prenagen”

Tiyem       :” Mbo’ ana apa sih?”

Mbo’ Rum  :” Kae mbake, ndoro Sarkiyem lagi ngamuk neng ngumah”

Maroah     :” Mane ngelih ndean mbo’?”

Tiyem       :” Iya, kan biasane kari ngelih mane tah njoged sit”

Mbo’ Rum  :” Ih… tapi kiye tah beda mbake. Ndoro Sarkiyem lagi nggoleti mbake Mar, jarene poten poten”

Maroah     :” Important ndean mbo”

Mbo’ Rum  :” Iya ndean, lah pokoke poten poten mbake. Mbake Mar kudu balik siki jare ndoro Sarkiyem. Yuh”(nggandeng tangane Maroah)

Tiyem       :” Eh… mba Mar, durene pibe?”

Maroah     :” Gon mudun dewek”

 

         Maroah, Mbo’ Rum karo Tiyem balik maring ngumah. Sementara kuwe neng umaeh Parman, kaya biasa Parman lagi nglamun neng ngarep umah, saking kesueh mboke maring Parman, Parman dijejeli watu ding mboke.

 

Parman     :” Aduh…. Mboke!”

Mboke      :” Bocah! Maning-maning nglamun, maning-maning nglamun! Kowe kuwe wis gede, wis cukup umur nganggo kawin. Cepet mana metu golet wadon go dijak kawin! Mboke wis tambah tuwa kyeh!”

Parman     :” Tenang bae mboke, Parman wis duwe mangsa ikih go dijak kawin”(cengengesan)

Mboke      :” Oalah… Masa ana cah wadon sing seneng karo kowe sing pegaweane nglamun ora jelas!”

Parman     :” Aja salah mboke, Parman nglamun kwe ora sekedar nglamun sing ora jelas, tapi Parman kwe lagi mikir go masa depane Parman, Parman lagi mbayangna duwe umah gedong sing ngarepe ana kali sing isine buaya gede-gede, ngko dadine mboke ora bisa jog umaeh Parman, weeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!”(meled)

Mboke      :” Dasar bocah seteres!(njewer) Cepet kyeh digawa jog bapamu neng sawah!”(wei rantam)

Parman     :” Mboke… buaya!”(mbalangna godong maring mboke)

Mboke      : (kaget) Dasar bocah edan!”

 

         Parman lunga maring sawah njujugna panganane bapane. Lagi mlaku mbari ndelengna pemandangan, ujug-ujug Parman ketemu Sumardi lagi mlaku bareng karo mbaeh sing wis tuwa mbari nggawa sepatu bal.

 

Mbah          :” Cepet tho Le mlakune! Mbah wis ditunggu neng lapangan kyeh pan bradu!”

Parman     :” Pan bradu karo sapa maning mbah?”(mereki mbah karo Sumardi)

Mbah          :” Weh… tos sit owh!(tos) Kiye Le, mbah pan bradu nglawan desa sebelah Le. Biasa”(ngedipna mata)

Sumardi    :” Mbah, mbah, rika kwe wis tuwa, isin karo umur. Balik bae yuh, ngko tak tukukna cimol neng ngarep smai yuh”(nggandeng mbah)

Mbah          :” Emooooooooong! Emoooooooooong! Mbah pengin bal-balan bae eben bisa ketemu karo Celistiyan Gonderes”

Parman     :” Christian Gonjales ndea mbah”(gembuyu)

Mbah          :” Oh… arane wis ganti?”(polos)

Sumardi    :” Lah… mbah tah enak dolanan mlayu-mlayu, sawise kuwe Mardi maning sing mejeti. Ahauh!”(kesuh)

Mbah          :” Tenang bae Le, Mbah wis nginum X-Tra Dos ikih, dijamin ora bakal macek maning boyoke. Yuh mangkat siki”

Sumardi    :” Iya ya ora bakal macek maning, pokoke kari macek maning tak dundangna pak Harun gon dijejeli tengkorak”

Parman     : (gembuyu) “Iya wis mbah, Mar, Parman lunga sit wis ditunggu ding bapa neng sawah. Dimenang-menang ya mbah”

 

         Parman lunga jog sawah njujugna panganane bapake neng sawah, ujug-ujug mbaeh Sumardi boyoke kumat.

 

Mbah          :” Aduh… duh… duh…”(nyekeli boyok)

Sumardi    :” Sabar mbah, delat maning ge anjog ikih jog lapangan”

Mbah        :” Udu kuwe Le, tapi boyokku kumat maning, aduh mantepe!”(kelaranen)

Sumardi    :” Walah… piye sih si mbah kiye, durung ge ketemu walang maceke wis kumat. Ayolah siki jog pak Harun bae”

Mbah        :” Eh… pan apa jog pak Harun Le?”

Sumardi    :” Pan nglamar Pitekantropus”(nggered si mbah)

 

         Mbah karo Sumardi akhire ora sida bal-balan gara-gara boyoke si mbah kumat maning. Sementara kuwe neng ngumaeh Maroah, Sarkiyem mboke Maroah lagi Ngenteni Maroah sing diparani ding Mbo’ Rum.

 

Sarkiyem  :” Waduh… waduh… du du e du du e. Nduk… nduk… ( mereki Maroah) Maring mendi bae kowe nduk?”

Maroah     :” Wonten napa mane?”

Sarkiyem  :” Iki loh nduk, ana Raden mas Joko Sembrono Polar-Polor Mangkunang Gajah pan nglamar koe”

Tiyem       :” Aduh mane… dawa temen arane kaya semut lagi baris”

Sarkiyem  :” Hust! Aja ngomong kaya kuwe maring Raden mas. Ora ilok!”

 

         Matane Raden Mas Sembrono Polar-Polor Mangkunang Gajah terus-terusan ndeleng wong telu sing ana neng lawang kosih ora kedep, tapi sing dideleng dudune Maroah malah Mbo’ Rum.

 

Raden       :” Oh… Maroah pujaan atine inyong sing paling ayu dewek”(mereki Mbo’ Rum)

Sarkiyem  :” Raden… Maroah kae udu kiye, kiye tah Mbo’ Rum rewang neng kene”(mbalikna awake Raden maring Maroah)

Raden       :” Oh… salah to’. Tapi, saking pertama ketemu, atiku wis kesengsem maring pesonane mbo’ Rum. Mbo’ kawin yuh?”(mbari nyekel tangane mbo’ karo ndodok)

Mbo’ Rum  :” Oalah… mas raden mas, ayuh”(isin-isinan)

Tiyem       :” Hore… mbo’ Rum akhire payu.(keprok) Mbo’ slamet ya, akhire ana sing gelem karo ngomong Mbo’ kwe ayu, moga-moga matane Radene lagi katarak ya Mbo”(gembuyu)

Maroah     :” Selamet ya Mbo’. Moga cepet diwei keturunan, ngko dedene wadon bae ya Mbo’ ebenen ayu kaya aku”(mereki Mbo’ Rum)

Tiyem       :” Aja ding Mbo’ kaya aku bae sing….”

 

Ujug-ujug Nyai Pasugihan Gelarklasa Molak-Malik Srabi Miring  mboke Raden mas Joko Sembrono Polar-Polor Mangkunang Gajah teka karo dayang-dayange mbari ngipasi Nyai ne nganggo godong rambutan.

 

Dayang 1  :” Ndoro Nyai Pasugihan Gelarklasa Molak-Malik Srabi Miring   teka…”(gowokan neng ngarep raine Nyai)

Nyai         :” Tes mangan apa ko Day Ji!” (ngremesi dayang)

Dayang 1  :” Ana apa Nyai? Wangi ya cangkemku. Maning Ya…”

Nyai         :” Idih… wangi apane! Pengen semaput tah iya!”(sewot)

Dayang 2  : (gembuyu) “ Iya nyai, Day Ji tah saben dina mangane godong sirih campur daging ula, maganeng mambune ora karuan kaya kuwe”

Dayang 1  :” Ye… ya bagen, daripada Day Ro adus go lemah campur menyan, pan jejeran karo tukul sih rah!”

Nyai         :” Eh… uwis! Uwis! Malah dadi Day-Day sing ribut sih! Capppe Dek!

Anaku Joko, wis olih durung?”(mbari dikipasi 2dayang)

Raden       :” Sampun mamih, iki calon bojoku”(nidokna  Mbo’ Rum)

Nyai         :” Waduh Le, ayu tenan iki calonmu. Yuh mangkat siki, becake lagi ngenteni neng ngarep”

Sarkiyem  :” Idih… idih… idih… Raden, anaku piwe?”

 

Raden mas Joko Sembrono Polar-Polor Mangkunang Gajah karo mboke Nyai Pasugihan Gelarklasa Molak-Malik Srabi Miring lunga karo Mbo’ Rum lan dayang-dayange meng umaeh Nyai Pasugihan, Sarkiyem sing kebingungan maring pilihane  Raden mas, semaput saking ora percayane.

 

Maroah     :” Aduh… aduh… aduh… Mane!”(nyekeli Sarkiyem)

Tiyem       :” Mane, mane, saking senenge weruh Mbo’ Rum olih bojo kosih semaput”

Sarkiyem  : (tangi) “Udu seneng ooy(nonyo) tapi lagi sertes bisane mbo’mu sing dipilih Raden daripada mbakmu!”

Maroah     :” Loh mane, mau mbok lagi semaput. Ganeng tangi maning?”(heran)

Sarkiyem  :” Oh iya ya”(semaput maning maring awake Maroah)

Tiyem       :” Lah… mba Mar, lunga bae yuh. Mane tah goroan ikih”

Maroah     :” Iya wis yuh”(lunga,nguculna Sarkiyem)

Sarkiyem  :” Uh… dasar bocah Sableng! Wong tuwa dibalangna. Aduh!”(kelaranen)

 

         Esuke neng kali Kal-Ker, Parman karo Sumardi lagi nggolet paus. Emang dasare bocah seteres, nggolet paus neng kali jog jerapah kawin karo ketek ge ora bakalan ketemu.

 

Sumardi    :” Par, wis seminggu neng kene pause ora tumon-tumon  ya? Lagi pada arisan apa ya?”

Parman     :” Mbuh kyeh Mar, pause lagi pada demo ndea gara-gara PSSP”

Sumardi    :” Apa kweh PSSP Par?”

Parman     :” Persatuan Sepak Gila Seluruh Paus”(gembuyu)

Sumardi    : (Gembuyu)

Parman     :” Ih… ora lucu!”

Sumardi    : (mbesengut)

 

         Lagi asik-asike mancing ujug-ujug mbaeh Sumardi karo Darkiyem bojone Sumardi teka.

 

Darkiyem :” Aduh… kiye digoleti malah lagi nyante-nyante mancing neng kali. Bojo lagi gawa weteng loro kaya kiye, abot, nelangsa. Mending digawakna gentian ebenen aku ne ra macek terus kaya si mbah!”(jengkel)

Mbah            :” Oalah…Sabar tha Nduk, Sabar. Daripada jengkel bae, mending melu mancing bae yuh”(nggandeng)

Sumardi    :” Iya yuh yang mancing bae, mbok be olih putrid duyung go bisa dijak kawin maning, ya lih Par?”(gembuyu)

Parman     :” Yoi  Mar”(gembuyu)

Darkiyem :” Dasar mata darat, buaya keranjang, bojo lagi wetenge gede kaya kiye, nesih sempet-sempete pan golet wadon maning! Cepet balik, pejeti aku!”(njewer mbari nggered lunga)

Sumardi    : (kelaranen)

Mbah            :” Nasib… nasib… duwe bojo galak”

Parman     :” Wis mbah, ora usah diurusi, mending mbatiri aku bae mbah mancing golet paus, lumayan owh mbah, kari pause lanang bisa go batir turu mbah”(gembuyu)

Mbah            :” Iya ya Le, daripada mbah kari wengi turune dewekan terus, mending dibatiri paus bae. Pinter ko Le, Pinter!”(njiwit)

Parman     :” Pinter sih pinter mbah, tapi aja karo njiwit owh”

Mbah            :” Oh… lara ya, dijiwit ding mbah?”

Parman     :” Udu mbah, tapi keri, langka rasane”(gembuyu)

Mbah            : (mbesengut trus lunga)

Parman     :” Maring ndi mbah?”

Mbah            :” Balik, mbah mutungi!”(melet)

Parman     :” (Gembuyu)

 

         Parman nerusna mancinge, ujug – ujug lagi Parman ora sengaja nglinguk neng mburi, ana bocah wadon sing saben dina diimpik – impikna Parman, Maroah.

 

Parman     :” Maroah my angele inyong”

 

         Jantunge Parman tambah ora karuan weruh Maroah merek maring Parman.

 

Maroah     :” Akang Parman”

Parman     :” Iya Yayangku. Eh… Maroah, ana apa?”(gugup)

Maroah     :” Kang…”

Parman     :” Eh Maroah, mene njagong neng kene”(nidokna watu sing neng jejere Parman)

Maroah     : (njagong) “Kang… Maroah ngganggu ya?”

Parman     :” Ya ora lah yang, Eh… Maroah. Ana apa ya? Kangen ya maring akang?”(kepedean)

Maroah     :” Iya kang”(lirian)

Parman     :” Hah…? Maroah kangen maring akang?”(kesenengen)

Maroah     :” Or… ora, akang salah krungu”(ngeles)

Parman     :” Iya koh, akang ora mungkin salah krungu. Wis Maroah ngaku bae, ora papa koh”(colak-colek)

Maroah     :” Ih… akang apa sih??? Mar ora ngomong kaya kuwe kug”

Parman     :” Iya ge ora papa koh Mar. Ayo ngaku bae!”

Maroah     :” ORA!”(isin, lunga)

Parman     :” Lah… si Maroah apen-apen isin napan. Balik lah, jaluk mboke nglamarna aku go Maroah. Maroah… ayem kaming………………………………..!”

 

         Parman langsung lunga jog ngumaeh, saking pedene krungu Maroah ngomong kangen, Parman langsung kebelet pengin nglamar Maroah.

 

Neng ngumaeh Parman…

 

Parman     :” Mboke… Bapake…”(gowokan mbari mlayu)

Bapake     :” Ana apa tha Le? Mlayu-mlayu kaya dikejar semut bae”

Parman     :” Bapake, Mboke. Yuh maring umaeh ndoro Sarkiyem”(nggandeng tangane Bapake karo mboke)

Mboke      :” Idih… idih… pan apa kowe Le maring umaeh ndoro Sarkiyem?”

Parman     :” Nglamar na aku go Maroah anake ndoro Sarkiyem mboke, bapake. Yuh saiki!”(narik bapake karo mboke)

Mboke      :” Aduh Parman, ngko disit owh. Mboke pan paes sit eben ayu”

Bapake     :” Iya, bapake ge pan go jas sit ebenen ndoro Sarkiyeme kedap-kedip ngonong maring bapake”

Mboke      :” Eh… dasar ya! Wis tuwa ora isin karo umur!”(jengkel)

Parman     :” Ih… mboke karo bapake malah tukaran ora jelas. Ayo siki cepet jog Maroah. Parman wis ora kuat geh! Cepet!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

 

         Parman, Mboke karo Bapake langsung lunga jog umaeh ndoro Sarkiyem.

 

Neng ngumaeh ndoro Sarkiyem…

 

Parman     :” Assalamu’alaikum”(nggedor lawang)

Tiyem       :” Wa’alaikumsalam.(mbuka lawang) Kang Par, ana apa ya mene karo bapake karo mboke?”(kaget)

Mboke      :” Iki loh nduk, mboke, bapake karo Parman mene pan nglamar mbakmu Maroah”

Bapake     :” Iya, mane mu ana nduk?”

 

Tiyem langsung mlayu jog njero umah…

 

Tiyem       :” Mane… Mbak Mar… Mane… Mak Mar…”(gowokan, mlebu umah)

Sarkiyem  :” Ana apa sih Nduk? Gowokan kaya neng pasar bae! Kupinge mane kosih pan pecah kyeh”(nyekeli kuping)

Tiyem       :” Ih… mane tagh, emange aku tukang sayur pa neng pasar gowokan! Kiye mane, neng ngarep ana kang Parman, Mboke karo Bapake. Jare pan nglamar Mbak Mar”

Sarkiyem  :” Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat! Pan nglamar Maroah!”(kaget)

 

         Ujug-ujug Maroah teka sing kamare, tes tangi turu. Ilere ge nesih ngeces saking akehe malah bisa dinum.

 

Maroah     :” Ana apa sih mane, Yem, ribut-ribut bae. Maroah dadi ora bisa turu kyeh!”(ucek-ucek mata)

Tiyem       :” Mbak Mar, neng ngarep ana kang Parman karo bapake karo mboke. Jare pan nglamar mbak Mar. Yuh mana”(narik tangane Maroah)

Sarkiyem  : (nguculna tangane Tiyem sing Maroah, trus nggandeng tangane Maroah) “Wis karo mane bae”

 

         Sarkiyem, Maroah, Tiyem langsung jog ruang tamu nemoni Parman, mboke karo bapake sing wis njagong disit sedurunge dikon njagong.

 

Parman     :” Oh… yayangku Maroah”(mereki Maroah)

Sarkiyem  : (ngalang-ngalangi Parman) “Pan apa merek-merek? Hah!”(mendelik)

Parman     :” Hmmm… hmmm… pan salaman karo ndoro”(ngeles, salaman)

Sarkiyem  :” Alesan”(meled, Sarkiyem, Maroah karo Tiyem njagong neng jengkok)

Bapake     :” Ndoro, Parman sekeluarga maring mene pan jaluk ijin go nglamar Maroah. Diterima ya?”

Mboke      :” Iya ndoro, Parman kiye bocaeh rajin men ndoro, saben din age pegaweane nglamuuuuuuuuuuuuuuun terus, kosih panganane pada wutuh saking asik nglamune ora dipangan-pangan”

Sarkiyem  :” Hmmmm pan nglamar anaku? Pegaweane ngelamun ora bisa apa-apa kaya kuwe pan nglamar anake Ndoro Sarkiyem Juragan Jengkol! Nehi Aca-Aca”(nggeleng-gelengna jentik)

Tiyem       :” Mane, ora papa owh. Kang Parman gagah ikih. Kari ora olih karo mbak Mar, karo Tiyem ge ora papa koh mane”(isin-isin)

Sarkiyem  : (heran) “Ora olih, mbarigen Maroah ge ora bakal gelem karo pertunangan kiye, yak an Mar. Mar?”

 

         Sarkiyem madep maring Maroah, tapi ternyata Maroaeh lagi kedep-kedepan karo Parman.

 

Sarkiyem  :” He… kiye bocah”(nyikut Maroah)

Maroah     :” Apa sih? Apa? Ih… ngganggu bae!”(terus kedep-kedepan)

Sarkiyem  :” Maroah!”(gowokan)

Maroah     :” Eh… mane, ana apa?”(tanpa dosa)

Sarkiyem  :” Ko ora gelem nrima lamarane Parman kan?”

Maroah     :” Jare sapa? Aku gelem koh Mane karo kang Parman”(isin-isin)

Parman     :” Maroah… I LOVE YOU”(tangi, pan meluk Maroah)

Sarkiyem  : (ngadeg, ngalang-ngalangi Parman) “ Pan apa Heh!”(ketus)

Parman     : (gembuyu)

Sarkiyem  : (gembuyu)

Maroah     :” Mane, Mar tresno karo kang Parman. Ora papa ya Mar kawin karo kang Parman”(nangis)

Sarkiyem  : (nangis) “Aja nangis owh Maroah… Iya wis ora papa kowe kawin karo Parman tukang nglamun. Tapi aja nangis maning owh… Mane dadi melu nangis geh”

Maroah     :” Ih… mane ayu men yakin. Maroah wis ora nangis maning. Suwun ya mane”(meluk)

Mboke      :” Akhire Parman ana sing gelem ya pak”(seneng)

Bapake     :” Iya akhire bisa besanan karo ndoro Sarkiyem juragan Jengkol”(kedap-kedip maring ndoro Sarkiyem)

Parman     :” Maroah……………..”

Maroah     :” Kang Parman……….”

 

         Parman karo Maroah kejar-kejaran, jare dewek tah ebenen kaya pilem-pilem India. Akhire cintane Parman bener-bener mentok neng Maroah. Parman karo Maroah urip seneng, bareng selawase.

TAMAT

Sahabat Sejati (Naskah Drama)

by Wiwit Widia

Naskah drama yang kesekian yang pernah aku buat😀 Drama ini pernah ditampilin pas aku masih SMA, hihi drama yang menegangkan karna di sini ada adegan tokoh yang aku peranin mati tertabrak motor

………………

Di sebuah sekolah ada 4 orang sahabat yang selalu bersama, mereka adalah Chika, Laras, Luna,dan Festi,tetapi sejak mereka pisah kelas mereka jadi jarang terlihat bersama. Tapi walaupun begitu, mereka menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama

Suatu pagi di sekolah tampak Chika berjalan menuju kelas dengan wajah berseri-seri…

Chika         :” Laras.”

Laras         :” Hai,tumben jam segini dah nyampe sekolah.”(meledek)

Chika         :”Ih kamu, ngeledek ajah, eh Ras,ada Dion tuch.. aduh aku ko’ jadi deg-degan gini ya????”(sambil memegang tangan Laras)

Laras         :” Wah parah ni, jantung kamu harus segera di beri kantong plastik biar ga copot”(tertawa)

Chika         :” Ih………Laras, aku serius…eh liat deh, Dion dari tadi liat ke arahku terus,,, aduh………gimana ni????(panik)

Laras         :” Iya ya,kayanya da respon positif ni,,,hore bentar lagi bakalan njenggot ni eh tapi unsud juga kayanya lebih enak”(sambil tertawa kecil)

Tak lama kemudian Dion lewat dihadapan mereka berdua sambil memandangi mereka berdua…

Chika         :” Laras,tuch kan…dia liatin aku lagi,, oh…my God serasa mau pingsan diri ini”

Laras         :” Duch…lebai deh, Eh Chik, diliat dari gelagatnya dia kayanya suka sama kamu, tapi kenapa dia gag pernah nembak kamu ya?”

Chika         :” Iya ya,mungkin dia malu kali”

Laras         :” Iya kali ya”

Bel tanda masuk berbunyi,mereka berdua bergegas masuk ke dalam kelas

Dalam kelas…

Chika         :” Ras,kamu dah ngerjain PR Antro belum?”

Laras         :” Udah.Chik,kamu udah ngerjain PR kan?(dengan nada curiga)

Chika         :” Eah,udah dong.”

Laras         :” Tumben”(ledek Laras)

Bu Guru    :” Laras,mana tugas kamu?(sambil menghampiri ke arah tempat duduk Laras)

Laras         :” Ini bu”(memperlihatkan tugasnya)

Bu Guru    :” Bagus,Chika mana tugas kamu?”

Chika         :” Ini dong bu,kali ini saya nggak lupa lagi buat ngerjain tugas”(bangga)

Bu Guru    :” Bagus,perlu dipertahankan dan ibu harap bukan hanya untuk hari ini tapi untuk hari-hari selanjutnya dan bukan hanya pelajaran ibu saja,mengerti?”

Chika         :”Iya bu.”

Bu Guru kembali ke mejanya dan melanjutkan pelajaran yang lalu

Chika         :” Ras, baru ngerjain PR sekali aja diceramainnya panjang banget gimana lo tiap hari ngerjain PR ya?

Laras dan Chika tertawa kecil hingga mendapat teguran dari bu Guru

Bu Guru    :” Chika,Laras,,jangan bercanda saat pelajaran sedang berlangsung!”(tegur bu Guru)

Bel istirahat berbunyi ..

Bu Guru    :” Ya, sekian pertemuan kita kali ini, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” (lalu meninggalkan kelas)

Murid2      :” Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Seketika murid-murid meninggalkan kelas dan pergi ke kantin…

Di kantin…

Luna          :” Hai Fes, di cariin kemana-mana taunya ada di sini ”(sambil duduk di kursi dan menyerobot minuman yang hampir sampai ke mulut festi)

Festi          :” Emanknya mau ngapain sih nyari-nyari aku?”(sambil menyerobot minumannya lagi yang lagi di sruput Luna)

Luna          :” Ih….Festi, maen nyrobot-nyrobot ajah”(kesal)

Festi          :” Ya lagian kamu, aku lagi kehausan malah main srobot minuman ajah.”(pura-pura kesal)

Luna          :” Eh Fes, Dion mana??”

Festi          :” Mana aku tau, emanknya aku emaknya apa?

Luna          :” Ih…Festi ko’ gitu sih?”

Festi          :” Lah trus gimana? emank beneran aku gag tau ko.”

Luna memang sudah lama menjadi pengagum rahasia Dion, dia selalu memperhatikan Dion,walau pun dia sendiri tau bahwa Dion tidak  pernah memperhatikannya…

Tiba-tiba Chika dan Laras datang menghampiri mereka

Chika         :” Hai Fes, Lun.. ntar malem maen ke rumahku yuk?”(sambil duduk di dekat mereka diikuti Laras)

Luna          :” Mau Ngapain malem-malem ke rumah kamu?”

Laras         :” Gini,semenjak kita pisah kelas, kita ngerasa jadi gag sedeket dulu lagi sama kalian.”

Chika         :” Nah… maka dari itu kita pengen nostalgiaan dirumahku, mau gag??Mau ya?”(dengan wajah memelas)

Festi          :” Iya juga ya, kita jadi jarang ngumpul-ngumpul kaya dulu lagi”

Laras         :” Nah maka dari itu, kita ngumpul dirumah Chika ntar malem ya?”

Festi          :” Iya… aku setuju, kalo menurut kamu gimana  Lun?”

Luna          :” Iya, ide bagus, jam berapa kita ke rumah kamu?”

Chika         :” Jam 7 jah ya, skalian kita dinner bareng?”

Festi          :” Oke lah”

Luna          :” Kalo”

Laras         :” Begitu”

Kemudian mereka berempat berpandangan dan tertawa bersama

Malam hari,di rumah Chika,terlihat nyonya Ratna ibu Chika,Cintia adik Chika dan Chika sibuk mempersiapkan makan malam di ruang makan.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi…

Cintia        :” Ma, itu kayanya bunyi bel ya?”

Ny Ratna   :” Iya… Chika,buka pintunya nak, siapa tau temen-temen kamu yang datang”(sambil membereskan piring)

Chika         :” Iya Ma..”

Sejurus kemudian Chika sudah tiba di depan pintu dan membuka pintu

Luna          :” Hai Chik…ayo makan?”

Festi          :” Huh… dasar kamu Lun, baru ajah datang dah minta makan”

Laras         :” Iya nih, belum juga masuk”

Luna          :” Kan laper…ya gag Chik?”

Chika         :” Ya udah, masuk yuk… ibuku udah masak masakan yang super lezat buat kita”

Setibanya di ruang makan…

Ny Ratna   :” Ayo sini, pasti kalian sudah pada lapar ya?”(mempersilahkan)

Luna          :” Iya, tante tau ajah”(cengengesan sambil mencium tangan ibu Ratna diikuti Festi dan Laras)

Ny Ratna   :” Ya udah sekarang kalian duduk dan kita makan sama-sama”

Laras         :” Wah… masakan tante tambah enak aja nih”

Festi          :” Iya, udah lama gag pernah ke sini tambah delicious ajah”

Laras         :” Tante jago banget masaknya”

Luna          :” Iya dong gag kaya yang ada di sebelahku ini”(melirik kearah Chika)

Serentak semuanya tertawa…

Chika         :” Ih…apa-apaan sih? Skarang kan aku udah bisa masak tau, ya de?”

Cintia        :” Iya, kaka skarang udah bisa masak kok ka”

Laras         :” Oh ya??mank udah bisa masak pa?”(penasaran)

Cintia        :” Masak air”

Serentak semuanya tertawa…

Chika         :” Ih… ade bukannya belain malah mblengsekna, awas kon!”

Ny Ratna   :” Eh… sudah-sudah jangan pada bercanda, ayo lanjutkan makannya”

Chika         :” Mah, Luna, Laras sama Festi mau nginep di rumah, boleh ya mah?

Festi          :” Eng…enggag dink tante…”

Luna          :” Iya… lagian kan kita belum pamit sama orang tua kita”

Laras         :” Huum, Chika kita kan cuma mau numpang makan aja di sini”

Semua tertawa kecil

Chika         :” Yah, sekali-kali kan gag papa, lagian dulu juga kita kan sering nginep di rumahku, gag papa kan mah?”

Ny Ratna   :” Iya gag papa, bener kata Chika sejak kalian pisah kelas, kalian jadi jarang main dan nginep di rumah ini”

Festi          :” Tapi tante kita belum ijin ke orang tua kita”

Ny Ratna   :” Kalo masalah itu nanti biar tante yang ijinin, orang tua kalian juga kan sudah kenal baik sama tante, pasti di ijinin”

Chika         :” Iya tenang ajah, ya pada mau kan?”

Festi          :” Okelah”

Luna          :” Kalo”

Laras         :” Begitu”

Serentak mereka tertawa kecil

Selesai makan Chika, Luna, Festi, Cintia, dan Laras membantu ibu Ratna membereskan meja makan…Selesai mereka membereskan, Chika, Luna, Festi dan Laras langsung pergi ke kamar Chika…

Di kamar Chika…

Laras         :” Eh… tau gag, ini kan foto kita waktu kita pertama masuk SMA ya?”(sambil membuka-buka album photo)

Luna          :” Mana-mana?(mencari) oh iya, liat ni Chika 1 tahun yang lalu, rambutnya masih kriting kaya mie”(tertawa kecil)

Chika         :” Eh… tapi itu kan dulu, sekarang kan rambutku udah lurus kaya Luna Maya, ya gag Fes?(menoleh kearah festi)Ye…ni anak malah tidur”(kesal)

Serentak Laras dan Luna tertawa…

Laras         :” Ya udah mendingan kita juga tidur”

Luna          :” Iya biar besok gag terlambat, kita kan gag bawa baju papa ke sini”

Laras         :” Iya, gara-gara kamu sih… kita kan gag da niatan buat nginep disini, jadi gag bawa papun kecuali eank melekat di badan”

Chika         :” Hehe…cowry my plend. Tenang ajah besok pagi-pagi aku anterin kalian sampe ke rumah  masing-masing dengan selamat naik gerobaknya pa khadiri”(tertawa)

Serentak mereka memukul Chika dengan bantal

Chika         :” Udah yuk bobo, dah malem”

Mereka bertiga langsung tidur dan tenggelam dalam mimpinya

Keesokan harinya di kantin sekolah saat jam istirahat…

Chika         :” Ras, kayanya aku mau nembak Dion deh”(sambil duduk di

samping Laras yang lagi minum)

Laras         :” Apa!!!(tersendak dan batuk) kamu mau nembak Dion?”(tak percaya)

Chika         :” Iya, abisnya kalau nunggu Dion nembak aku kelamaan, jadi aku aja yang nembak dia”

Laras         :” Chik, kamu bercanda kan?”

Chika         :” Enggag, aku gag bercanda, aku serius, malah aku butuh bantuan kamu”

Laras         :” Bantuan aku??”

Chika         :” Iya”(menunjukkan sepucuk surat)

Laras         :” Ini apa?”(mengambil surat dan membolak-baliknya)

Chika         :” Tolong kasiin surat ini sama Dion ya? Ini surat ungkapan isi hati aku, pleaseee, mau ya?”(memohon)

Laras         :” Iya deh”

Chika         :” Makasih… kamu emang sobatku eank paling ngertiin aku.. Oia, jangan lupa minta balasannya ya? secepatnya”

Laras         :” Iya”

Chika         :” Loch… ko masih di sini ajah?”

Laras         :” Nah terus?”

Chika         :” Kasih suratnya sekarang, tuch anaknya lagi ada di sana”(menunjuk)

Laras         : (mencari) “Oh… sekarang?”

Chika         :” Gag taun depan! ya sekarang lah…cepetan”

Laras langsung pergi dan menemui Dion yang lagi asyik ngobrol dengan sahabatnya, Gilang.

Laras         :” Hai Dion?”

Dion          :” Eh…Laras? ada apa?”(tersendak)

Gilang       :” Makanya bismillah dulu dong kalau mau makan”(meledek)

Laras         :” Ini ada surat buat kamu dari Chika”

Gilang       :” Cie…cie…cie…menang tina penggemar,,,cie…cie…cie…(meledek)

Dion          :” Apaan sih?”

Laras         :” Ya…udah dulu ya. Oia, kata Chika ditunggu balasannya secepatnya”(sambil meninggalkan mereka berdua)

Gilang       :” Surat naon sih?Jangan-jangan eta surat wasiat anu isina sia kudu bayar hutang-hutang sia..”(tertawa)

Dion          :” Kamu ini, eh…tapi Lang, kamu tau gag yang namanya Chika itu?”

Gilang       :” Ya ampun On, masa sia ente nyaho? gag tau sih? Chika itu anak yang suka bareng-bareng sama Laras”

Dion          :” Siapa sih? ko aku gag pernah tau ya?

Gilang       :” Cappe dweh”

Bel masuk berbunyi, mereka segera masuk ke kelas…

Di kelas…

Dion          :” Ini surat apaan ya Lang?”(sambil membolak-balik suratnya)

Gilang       :” Lamon dibolak-balik bae mah,kumaha nyaho isi suratna…”

Bu Guru    :” Gilang, kamu dari tadi bicara terus,apa yang di maksud dengan Bahasa!!”(marah)

Gilang       :” Ehm.. itu bu,anu…anu…ahh……Bahasa adalah ketika urang keker ngobrol jen ibu guru nyarekan abdi jen ngomong apa anu diaranan bahasa?”

Bu Guru    :” Gilang!! ambil kemoceng itu!!(marah sambil menunjuk kemoceng yang berada dekat dengan Gilang) Anak –anak, ini adalah contoh anak yang tidak berbakti kepada gurunya”

Gilang       :” Jen ieue adalah guru anu nte berbakti kang muridna?? A a a ampuuuuuuuuun bu..”

Bu Guru    :” Kenapa kamu?”

Gilang       :” abdi khilaf bu, tolong ula amuk abdi ibu…..”(memohon)

Bu Guru    :” Siapa yang mau pukul kamu?”

Gilang       :” Eta, kemoceng jen amuk abdi kan bu?”

Bu Guru    :” Siapa bilang?? Orang ini mau ibu bawa pulang buat koleksi kemoceng ibu di rumah”(sambil menaruh di dalam tas)

Murid2      :” Huh………..modal ragh bu!!!!!!!!!!”

Bel tanda pulang berbunyi

Bu Guru    :” Karna bel pulang sudah bordering, saatnya kita pulang wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Murid2      :” Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”

Gilang       :” Bu, kemocengna!’

Bu Guru    :” Buat ibu, terimakasih ya anak-anak”(sambil meninggalkan kelas)

Gilang       :” Dasar guru aneh!!!”

Di rumah Cintia…

Cintia        :” Bintang, besok kan ada pelajaran kesenian ya??”

Bintang     :” Iya, besok kan pelajarannya merias diri… Cintia aku gag pernah dandan tau”

Cintia        :” Sama, aku juga ga pernah dandan”

Bintang     :” Kamu punya alat-alat buat dandan?”

Cintia        :” Aku gag punya, tapi kayanya ka Chika punya deh, ayo kita ke kamar ka Chika”

Mereka berdua lalu pergi ke kamar Chika dan mencari apa saja yang mereka butuhkan untuk tugasnya

Bintang     :” Cintia, ini buat apaan ya?”(memegang blush on dan memulaskannya di kelopak mata)

Cintia        :” Bintang, kenapa di poles di mata??(mengambil) ini tuh buat di pipi biar pipi kamu jadi merah kaya orang gunung”(memoleskannya)

Bintang     :” Oh… brarti orang gunung pinter dandan ya??”

Cintia        :” kok gitu?

Bintang     :” Kata kamu pake benda ini biar pipinya merah kaya orang gunung, brarti kan orang gunung itu pada pinter-pinter dandannya”

Cintia        :” Hah??whatever lah”

Bintang menemukan sebuah lips gloss yang berbentuk seperti kutek, hingga dia mengira benda itu adalah kutek dan dia pun mengoleskannya ke kuku

Cintia        :” Aduh… Bintang, ini kan lips gloss buat di bibir bukan di kuku”

Bintang     :” Ups… maaf aku gag tau, abisnya kaya kutek sih”

Cintia        :” Uh…kamu, polos banget sih jadi anak! yaw dah, kita pindah ke kamarku aja yuh?tapi ini semua di bawa ya?”

Bintang     :” Emanknya gag papa??”

Cintia        :” Gag papa, gag nyampe bunuh kamu ikih..hehe”

Bintang     :” Maksudnya?”

Cintia        :” Uh…dasar lola, ayo cepet ke kamarku!”

Keesokan harinya di sekolah…

2 bulan setelah Chika memutuskan untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Dion melalui

surat, Chika belum juga mendapatkan balasan dari Dion, hingga akhirnya dia tidak sabar dan bertanya pada Laras

Chika         :” Ras, kamu udah ngasih surat itu ke Dion kan?”

Laras         :” Udah, kamu liat juga kan waktu aku ngasih surat itu? emank kenapa sih? dia udah bales surat kamu kan? apa balasannya?”(penasaran)

Chika         :” Dia  belum bales-bales suratku?”

Laras         :” Hah, masa sih?(tak percaya) padahal aku udah bilang balasannya secepatnya loh”

Chika         :” Iya, padahal ini udah 2 bulan semenjak hari itu”

Laras         :” Dia lupa kali”

Chika         :” Iih…masa lupa sih?? aku harus tanyain ini ke Dion, hari ini juga!”(mantap)

Laras         :” Emanknya kamu berani?”

Chika         :” Ya…ngga’ sih, makanya aku minta temenin kamu ya?”

Laras         :” Yah…sebenernya aku mau, tapi hari ini aku ada acara sama mamaku, maaf banget ya Chik?”

Chika         :” Yah…Laras…. tega banget, masa aku ngomong ini sendirian sih? ntar bisa-bisa aku pingsan duluan sebelum ketemu dia”

Laras         :” Yah…abisnya gimana lagi, aku gag bisa.. maaf banget ya?”

Tiba-tiba handphone Laras berbunyi…

Chika         :” Dari siapa Ras?”

Laras         :” Dari mama, aku di suruh pulang sekarang(sambil membawa tas)

Chika         :” Laras….”(merengek)

Laras         :” Duluan ya? kamu pasti bisa, sukses ya guys”(sambil meninggalkan Chika)

Chika memutuskan untuk menemui Dion walaupun tanpa Laras, dia pergi ke kelas Dion, dia berharap Dion masih berada di kelas, jantungnya serasa berdegap sangat kencang saat melihat sosok yang dicarinya sedang bergegas keluar kelas.

Chika         :” Dion, aduh…jantungku deg-degan sekali, ih… bulu kudukku merinding…. gag jadi jah pa ya?”

Chika memutuskan untuk tidak menemui Dion, ketika itu Dion lewat disampingnya tetapi akhirnya Chika memanggil Dion

Chika         :” Dion”(gugup)

Dion          :” Iya”(menoleh)

Chika         :” Kamu knapa belum balas surat dari aku?”(gugup)

Dion          :” Surat? surat apa?”

Chika         :” Surat yang 2 bulan lalu di kasih sama Laras di kantin buat kamu”

Dion          :” Oh… surat itu, jadi kamu yang namanya Chika?”

Chika         :” Apa?(kaget) jadi kamu gag kenal aku? slama ini tatapan kamu, senyuman kamu, kalau bukan buat aku trus buat siapa? kamu pasti bercanda kan? kamu kenal kan sama aku? kamu suka kan sama aku?”

Dion          :” Tunggu…tunggu…ini pasti ada kesalahpahama. Yang aku suka Laras, bukan kamu”

Chika         :” Jadi… slama ini?”(menangis)

Chika sangat terpukul mendengar pengakuan dari Dion, dia merasa telah  dikhianati oleh sahabatnya sendiri, kasih sayang seorang sahabat yang  dulu tak dapat terkikis oleh apa pun  sekarang jadi rasa benci yang teramat dalam hanya karna seorang cowo

Keesokan harinya di kelas sikap Chika terlihat berbeda pada Laras,hingga Chika berpindah tempat duduk di sebelah Rani gadis pendiam yang tidak mempunyai teman dan kuper…

Chika         :” Hai Rani gag papa ya aku duduk di sini?”(sambil duduk di sebelahnya)

Rani           :” Silahkan”(mesem)

Laras heran dengan sikap Chika yang tiba-tiba berubah dan tidak menghiraukannya lagi

Laras         :” Chik, kamu kenapa? knapa kamu pindah tempat duduk? Oia, kemarin Dion bilang apa?”

Tapi Chika tidak menghiraukan Laras setiap Laras mencoba berbicara dengannya

Bel masuk berbunyi…

Bu Guru    :” Assalamu’aliakum warahmatullahi wabarakatuh”

Anak2       :” Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”

Bu Guru    :” Anak-anak hari ini ulangan”

Anak2       :” Yah…belum belajar bu”(mengeluh)

Bu Guru    :” Tidak ada tawar-menawar,siapkan selembar kertas!”

Selama ulangan dimulai Chika tampak murung&tidak konsen menghadapi ulangan…

Bel tanda istirahat berbunyi…

Bu Guru    :” Ayo sekarang kumpulkan, waktunya sudah habis, baiklah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Anak2       :” Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Laras         :” Chik, ke kantin yuk?”

Chika         :” Gag ah, lagi males!”(sinis)

Laras         :” Chika, kenapa sih? kalo aku ada salah sama kamu, aku minta maaf”

Tetapi Chika hanya diam dan tidak berbicara sepatah kata pun pada Laras.

Laras         :” Chik, kalo kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku. Kita kan sahabat, kamu masih bisa ngandelin aku”

Chika         :” Sahabat?gag usah bilang tentang sahabat lagi, karna mulai sekarang kita bukan sahabat lagi!”

Laras         :” Chika, kamu kenapa ngomong kaya gitu? sebenernya apa yang terjadi sama kamu? apa salah aku sampai kamu bilang kaya gitu?”

Chika         :” Salah kamu? tanya aja ke Dion”

Chika kesal dan meninggalkan Laras yang tidak tahu apa-apa. Laras merasa penasaran dan kemudian dia memutuskan untuk menemui Dion di kantin, karna biasanya Dion berada di kantin

Saat jam istirahat

Laras         :” Dion, aku mau ngomong sama kamu”

Dion          :” Laras, kamu mau ngomong apa?”

Laras         :” Kemarin kamu bilang apa aja ke Chika?”

Dion          :” Chika?”

Laras         :” Iya kemarin kamu bilang apa sampe Chika marah sama aku?”

Dion          :” Ras, aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku…”

Laras         :” Kamu udah gila”(menampar dan langsung meninggalkan Dion)

Tanpa sepengetahuan Laras dan Dion ternyata Luna dan Festi melihat kejadian itu, Luna sangat terpukul mendengar bahwa ternyata Dion yang ia kagumi ternyata menyukai sahabatnya sendiri Laras, tapi dengan lapang dada Luna menerima semuanya dan dia bertekad pada saat itu juga untuk melupakan Dion.

Festi          :” Lun, sabar ya? masih banyak ko, cowok di dunia ini”(menenangkan)

Luna hanya diam…

Tiba-tiba Chika datang wajah yang sedih dan mendekati Luna dan Festi

Chika         :” Lun, Fes”

Festi          :” Eh… Chika? ada apa? mana Laras?”

Chika langsung menangis dan memeluk Festi

Festi          :” Chika kamu kenapa? ada masalah?”

Chika         :” Laras ngehianatin aku”(menangis)

Festi          :” Maksud kamu?”

Chika menceritakan semua yang telah terjadi padanya, tentang Dion, tentang surat ungkapan isi hatinya juga tentang ternyata Dion menyukai Laras. Luna hanya diam mendengar cerit Chika, dan akhirnya Luna mengakui bahwa dirinya juga menyukai Dion.

Chika         :” Jadi… kamu juga suka sama Dion?”

Luna          :” Iya Chik tapi itu dulu sebelum aku tahu bahwa ternyata Dion menyukai Laras, tapi sekarang aku akan coba untuk lupain Dion dan lebih memilih persahabatan kita”

Chika         :” Segampang itu kamu ngerelain Dion? Bagiku gag, Laras udah ngianatin  persahabatan kita dan mulai sekarang persahabatan aku sama Laras udah berakhir”

Festi          :” Kamu jangan kaya gitu, kamu lebih mentingin cowok daripada sahabat kamu sendiri yang….”

Chika         :” Cukup!kalo kalian mau ngebelain Laras yaw dah sana, gag usah peduliin aku lagi!!”(langsung pergi meninggalkan Festi dan Luna)

Di kelas saat pulang sekolah…

Laras         :” Chik, aku udah tau semuanya, ini semua salah paham Chik”

Chika         :” Semuanya itu udah jelas, kamu emank penghianat!!!aku gag mau ketemu lagi sama kamu!Jangan ganggu aku lagi!!”

Chika langsung pergi meninggalkan Laras dan langsung pulang ke rumah…

Laras langsung menemui Dion dan meminta bantuan Dion untuk menjelaskan bahwa antara dirinya dan Dion tidak ada apa-apa

Setibanya di rumah Laras…

Laras         :” Assalamu’alaikum”(mengetuk)

Tak lama kemudian Cintia adik Chika membuka pintu dan mempersilahkan Laras dan Dion

Cintia        :” Wa’alaikumsalam…eh ka Laras mari masuk. Cie…… sama siapa ni?”(berbisik)

Laras         :” Kaka ada Cin?”

Cintia        :” Duduk dulu ka, ntar Cintia panggilin ka Chika”

Tak lama kemudian Chika datang dengan marah-marah dan tak suka dengan kedatangan mereka berdua

Chika         :” Ngapain kalian ke sini?”

Laras         :” Chika, aku mau ngejelasin semuanya sama kamu”

Chika         :” Gag da yang perlu di jelasin lagi!aku udah muak liat kalian berdua!

Dion          :” Chik, Laras gag salah, semua ini salah aku, aku yang udah terlalu egois buat masuk ke kehidupan kalian, aku dah jahat udah mau ngehancurin persahabatan kalian, kalo kamu emank sayang sama aku, kamu pertahanin persahabatan kalian”

Chika         :” Udah lah bilang ajah kamu mau belain Laras, jelas-jelas kamu suka sama dia, lagian kalo misalnya kamu pengen persahabatan aku gag hancur, semuanya udah terlambat!Dan kamu pergi dari sini!!jangan pernah kembali lagi!!!(sambil mendorong Laras keluar)

Akhirnya Laras dan Dion pergi meninggalkan rumah Chika,wajah Laras tampak lesu dan merasa bersalah,hingga ia tak menyadari ada sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan langsung menabrak Laras

Laras         :” Aaaaaaaaaaaaaaarggggggggggggggggggg”(tertabrak)

Dion          :” Laraaaaaaaaaaaaaaaaaas….”

Tampak Luna dan Festi yang sedang berjalan menuju rumah Chika dan melihat Dion sedangN kebingungan mencari pertolongan..

Luna          :” Fes, itu kan Dion, dia lagi kenapa ya? kita ke sana yuk?”

Luna dan Festi langsung mendekati Dion, betapa terkejutnya mereka melihat Laras yang berlumuran darah tergeletak di jalan

Festi          :” Astaghfirullahal’adzim. Laras…Dion. Apa yang terjadi?”

Dion hanya diam, tak berapa lama Chika, Cintia dan Ny Ratna datang menghampiri mereka,betapa terkejutnya Chika melihat Laras yang sudah tak berdaya lagi…

Laras         :” Chika…maafin aku. aku gag mau persahabatan kita berakhir, aku sayang sama kamu, tolong maafin aku”(lemah)

Chika         :” Gag Laras, aku yang salah, aku udah keterlaluan sama kamu, aku yang nyebabin kamu kaya gini, aku minta maaf sama kamu, sekarang kita ke rumah sakit ya?”

Laras         :” Gag usah Chika, aku baik-baik aja, yang penting kamu udah maafin aku dan persahabatan kita akan kekal abadi”

Laras memegang tangan Chika dan tangan Dion, lalu mempersatukan tangan keduanya

Laras         :” Dion, tolong jaga sahabat aku dengan baik, aku sayang kalian, Fes, Lun , aku juga minta maaf apabila aku banyak salah sama kalian, jaga persahabatan kita baik-baik ya?”

Luna+Festi:” Iya Ras,,”

Laras sudah tidak kuat lagi hingga akhirnya dia menutup mata…

TAMAT

Karangan Bunga untuk Bunda

oleh Wiwit Widia

“ Bunda… Clara kangen sama Bunda.” Clara masih terdiam sembari melihat Tia teman sebangkunya sedang dipeluk dengan hangat oleh bundanya. Tak terasa air mata Clara pun menetes. Sudah satu minggu ini, ibunya terbaring lemas di rumah sakit karna penyakit thypus.

“ Clara… kamu kenapa sayang?” Suara Bu Reni guru Bahasa Indonesia Clara menyadarkan Clara. “ Eh… Bu Guru, Clara tidak papa bu, Clara cuma sedih saja memikirkan bunda di rumah sakit.” Air mata Clara pun kembali menetes.

“ Clara sayang, bunda Clara pasti sebentar lagi akan sembuh.” Ucap bu guru menyakinkan. “Dulu, waktu bunda bu guru sakit, bu guru sedih sekali, sama seperti yang Clara rasakan saat ini. Tapi, bu guru tidak mau menyerah dan terus berdoa untuk kesembuhan bunda bu guru. Setiap hari bu guru selalu membuat rangkaian bunga untuk bunda bu guru, bu guru yakin dengan rangkaian bunga itu, bunda bu guru akan sehat kembali.” Cerita bu guru panjang lebar.

“ Lalu, apakah setelah itu bunda bu guru jadi sehat kembali?” Tanya Clara penasaran. “ Benar Clara, setelah setiap hari bu guru membuat karangan bunga untuk bunda bu guru, tidak berapa lama bunda bu guru sehat kembali.” Cerita bu guru dengan semangat.

“ Benarkah itu bu guru? Kalau begitu pulang sekolah nanti Clara mau buat karangan bunga untuk bunda, biar bunda cepat sembuh.” Ucap Clara dengan semangatnya dan seketika itu kesedihannya pun hilang.

Pulang sekolah Clara langsung pergi ke taman belakang rumahnya, di sana banyak sekali bunga-bunga yang indah dan harum. “Aku yakin, kalau aku bikin karangan bunga  yang banyak, bunda pasti cepat sembuh.” Bisik Clara dalam hati. Saking asyiknya merangkai bunga, Clara tidak sadar kalau ayahnya sudah ada di belakangnya.

“ Clara, sedang apa sayang?” Tanya ayah mendekati Clara. “ Ayah, Clara mau bikin karangan bunga yang cantik untuk bunda, supaya bunda cepat sembuh dan bisa bermain boneka lagi sama Clara.” Jawab Clara dengan semangat. “ Bunda pasti akan cepat sembuh melihat karangan bunga cantikmu ini sayang.” Ucap ayah senang.

Clara dengan semangat meminta ayah mengantarkannya ke rumah sakit, Clara ingin segera meletakkan karangan bunganya di samping tempat tidur bunda dan berharap dengan karangan bunganya itu, bunda akan segera sembuh dan bisa bermain bersama lagi dengan Clara.

Sesampainya di rumah sakit, dengan cepat Clara berlari menuju kamar 202 tempat bunda di rawat, terlihat di sana bunda sedang tertidur pulas. Takut bunda tiba-tiba terbangun, dengan perlahan Clara meletakkan karangan bunga hasil buatan tangannya di samping tempat tidur bunda. Tiba – tiba terdengar sapaan lembut dari tempat tidur bunda “ Hai putri bunga.” sapaan lembut bunda mengagetkan Clara. “ Bunda, Clara buatin bunda karangan bunga yang indah biar bunda cepet sembuh, Clara pengen maen boneka lagi sama bunda. Bunda janji ya bakal cepet sembuh.” Pinta Clara sembari memeluk bunda hangat. “ Terima kasih sayang, iya bunda janji bunda akan cepet sembuh dan main boneka lagi sama Clara, apalagi rangkaian bunga Clara yang cantik ini bikin bunda tambah semangat untuk sembuh.” Ucap bunda membalas pelukan Clara.

Keesokan harinya dokter memperbolehkan bunda untuk pulang ke rumah, Clara sangat senang dan bersemangat membantu ayah dan bunda membereskan barang – barang bunda untuk dibawa ke rumah. Sekarang, Clara sudah tidak sedih lagi, bunda sudah sembuh dan bisa menemani Clara bermain boneka setiap waktu. Clarapun kini setiap hari membuat karangan bunga yang indah untuk bunda, agar bunda tetap sehat dan selalu tersenyum di samping Clara.

Selesai . . .

This entry was posted on January 26, 2013. 1 Comment